Sabtu, 13 Juni 2009

ah entahlah.

dua anak kecil keparat
mereka tergilas kereta berkarat
darahnya muncrat
dinding belum terplester terciprat

sedan ceper berwarna biru melintas
posisi di sebelah bis patas
knights of cydonia dari muse terdengar terbatas
lagu kematian yang sangat pantas

semoga circle k bukan tuhan

[jogjakarta. 13 juni 2009. 04:11 am. fikri]

maintain saja terus!

maintain saja terus!
dan kamu fikri! ambivalensi saja tiap hari!
ngehe kamu!

atau kamu fikri! kamu tidak sedang berblablabla kan?
oh tidak kok. kamu tidak melakukannya. saya tahu itu.

lampu merah. detik ke 49.
seorang anak kecil mengelap board depan motor dengan kain yang lusuh.
seorang perempuan berpayudara aduhai hanya melihat dari balik kaca mobilnya.

patung polisi bernama Wibawa posisi istirahat di tempat.
tambah trisula konversi jadi Poseidon.
keluarga Allah jadi baliho.

Eli Eli Lama Sabakhtani.
dengan salib kayu made in taiwan.

lampu merah. detik 45.
anak kecil mengantongi rokok di balik kain yang lusuh.
perempuan berpayudara aduhai mengangkat blackberry menutupi wajah.

patung polisi tanpa trisula bukan Poseidon.
rujak icecream tanpa gula merah.
keluarga Allah tetap baliho.

gulungan tembakau terselip di bibir.
tangan kanan berjari lima.
tangan kiri berjari dua.

lampu merah. detik 37.
anak kecil menuju selatan. aku sebaliknya.
perempuan berpayudara aduhai mungkin 34B. menuju utara bersama payudara teman tenggaranya.

rujak icecream bengkuang mentimun. menghadap barat. tanpa kerasakti.
kantong kresek plastik hitam dingin berisi es batu.
keluarga Allah masih baliho.

salib kayu made in taiwan murah awet.
aku akademisi. ipk 2.73

lampu merah. detik 15.
tangan kanan berjari tiga.
tangan kiri berjari dua.
anak kecil sembunyi di belakang sedan ceper velg mahal.
perempuan berpayudara aduhai membetulkan posisi spion.

keluarga Allah belum bergerak.
eli eli lama sabakhtani. kali ini tanpa kapital.
trotoar dilapisi kardus. jalanan menjadi piring.

ki hajar dewantara kepala besar. memelototi polisi Wibawa.
tidak gentar. posisi istirahat di tempat.

lampu hijau. detik 21.
anak kecil duduk sila bertiga di bawah waktu.
bisu.
palsu. semua kembali.

Rabu, 03 Juni 2009

aku ingin bercerita banyak tentang kemarin, 31 mei 2009

aku ingin bercerita banyak tentang kemarin, 31 mei 2009.

tentang ruangan yang lapang dengan aroma minyak rambut mencekik.

tentang rambut yang mengeras gaya masa kini condong ke kartun.

tentang garis - garis yang aneh.

tentang agama.

tentang alienasi busana.

tentang kritikus film bangsat!

tentang cita, cinta, dan harapan tanpa terbawa dalam kisah lama sekali.

tentang pembelokkan budaya.

tentang tiang - tiang terpasang dengan lampu berwarna merah.

tentang pasangan sistem patriarki. perempuan diseklusi.

maafkan aku kemarin.

tentang ternyata perlakuan yang sama bagi orang yang tidak sama hanyalah lucon. kalau melihat raut mata mereka kemarin seperti melihat orang - orangan pengusir burung di sawah. setidaknya di mataku. ya aku juga benci dengan pengucap don jadje e buk bay its kafer. pembodohan klise. lama - lama mungkin aku jadi seorang yang klisephobia.

tentang korek api yang hilang tiap tiga hari sekali.

tentang bungkus baru gudang garam filter yang lagi - lagi klise.

tentang kebohongan Joko Anwar sutradara homo terhadap the punjabis dalam film "KALA". hahaha mampus lo!

tentang judi blackjack.

tentang narcisist yang -ist nya di indonesia hilang entah kemana.

tentang uang kost yang terpakai [LAGI]

tentang ucapan putra "si ***** aja bisa suka ama lo fik". kampret!

tentang nasi kare jepang yang sebenarnya adalah sate padang tanpa lontong.

tentang radiohead.

tentang gelombang manuver kefanatikan mendadak terhadap sebuah band yang aku akui memang menarik perhatianku setelah melihat secara langsung dibanding riski samerbi dan pencuri timun, melancholic bitch. padahal sudah mengisi hardisk dari entah kapan.

tentang munculnya kembali nama itu lagi. ah pergi jauh - jauh kau! bahkan kemarin kita tidak jadi bertemu di sekolah tapi rautmu tersisa di kepalaku. apa karena di kamarku masih terpasang gambar kita berdua di depan pim?

tentang popcorn di sandaran kursi twentyone.

tentang ingatan putih abu - abu cabut sekolah.

tentang efek rumah kaca melulu. kamu tau apa itu diminishing return? ya, itu kamu cholil.

tentang kehilangan seorang ayah sahabat. pio tabah ya! setelah ujian antarkan aku untuk berziarah ke kuburan ayahmu.

tentang kamarku yang kini sudah agak layak ditinggali.

tentang seorang sahabat dari tk sampai waktu yang tidak ditentukan yang berkunjung tiga malam.

tentang seorang sahabat lawan jenis galau yang lagi - lagi mengingatkanku kepada sahabat lawan jenis yang sekarang sudah berkeluarga.

tentang eli eli lama sabakhtani.

tentang "gambar lo judulnya 'tergantung tapi tidak mati' maksudnya apa? mantep fik!"

tentang teman - teman semester satu yang menjauh.

tentang film bertema borjuis dan sosialis.

tentang balada seorang pengancam yang hanya mengancam tanpa tindakan lanjutan.

tentang botol - botol kosong anggur merah berjumlah tujuh di pojokan kamar. mungkin besok delapan.

tentang seorang frontman band rock n roll yang membuatku ingin gondrong lagi. tapi aku khawatir ideku akan macet melewati rambutku yang ruwet sehingga tersangkut di telinga yang berair. sehingga akan becek jika kumasukkan kelingkingku waktu mencungkilnya.

tentang susahnya menghapus pesan masuk yang sudah terekam. kenapa tidak dihapus semuanya saja? kenapa harus disortir dan masih dibaca ulang?

tentang ambivalensi.

tentang efek lagu efek rumah kaca melancholia yang masih sama persis saat pertama kali mendengarkannya. sudah satu tahun padahal.

tentang ganja yang sangat susah didapatkan di kota ini. mahal. satu linting seharga delapan kali makan? lebih baik tidak. lagipula sudah tiga tahun tidak ngebaks. haha.

tentang mainan anak - anak monopoli yang membuat arjuna tiga sedikit melupakan waktu dan tugas kuliah.

tentang permohonan pembelian modem dengan alasan kemudahan akses mencari materi kuliah.

tentang oscar matulloh dengan perempuan usia duapuluh.

tentang kemeja flanel yang seperti tai kuda delman di jalanan. semakin banyak saja. aku akan mengganti gaya sebentar lagi. tunggu saja.

tentang saman yang liar dan nakal. wow! entah mengapa aku tidak merasa digurui olehnya. pembelian selanjutnya: larung dan pramoedya yang murah saja.

tentang diskusi pengkotakkan realisme sosialis dan realisme kapitalis seorang seniman. aku masih bingung mau masuk partisi mana. haha. aku bukan seniman.

tentang terkapar di sangkuriang sambil mi dogdog goreng telor ceplok setelah apapun.

tentang fikri.

aku ingin bercerita banyak tentang kemarin, 31 mei 2009.

Kamis, 14 Mei 2009

adalah.

kaos dengan lambang salah satu partai sebagai sablonannya, lengket. menempel erat di punggungnya. peluh keringat penyebabnya. nama anak laki - laki kecil itu Bima. nama yang sangat Indonesia. tapi dia lebih senang dipanggil Bimbim. seperti idolanya. salah satu personel grup band itu. aku terus saja mengamati Bimbim dari balik jendela tempat kerjaku. aku kenal dia sudah cukup lama. hampir setahun. ketika itu aku membeli surat kabar yang ia jajakan. sebenarnya aku tak butuh surat kabar itu. toh tempat kerjaku sudah menyediakan 2 surat kabar di tiap meja kerja. aku hanya tertarik membelinya karena iba. perawakannya kurus. yah walaupun tidak kurus - kurus amat. kulitnya terlalu bersih untuk seorang penjaja koran seusianya jika dikomparasi dengan penjaja koran lainnya. usianya belum mencapai belasan. dia terlalu ganteng untuk seorang penjaja koran, bagiku. harusnya dia pergi ke sekolah seperti anak "normal" seusianya. ekonomi adalah pleidoi orangtua agar bisa mengeksploitasi anaknya.


aku meniti anak tangga. turun. hari ini aku pulang cepat. tugasku sudah selesai. aku diberi cuti 2 hari oleh atasanku. dia sangat puas dengan hasil konsep yang kutawarkan untuk proyek acara bulan depan. Ferdi, atasanku, sangat bergembira begitu membuka lembar demi lembar kertas konsep yang sudah kuselesaikan dalam 2 minggu terakhir. dia tersenyum senang dan menyuruhku untuk pulang lebih awal. kuiyakan. kunyalakan rokok begitu aku sampai di luar gedung tempatku bekerja. mataku mencari sosok Bimbim. ah itu dia. aku menemukannya. sedang bersenda gurau di bawah pohon beringin yang rimbun dengan teman - teman seprofesinya. pohon beringin itu seperti rumah kedua untuk Bimbim dan teman - temannya. pohon yang sangat nyaman untuk berteduh di bawahnya dari tajamnya sinar matahari. kadang - kadang aku dihujani tatapan iri dari teman - teman Bimbim ketika aku sedang bersamanya. tapi apa boleh buat. rasa ibaku hanya untuk Bimbim.


aku mendekati pohon beringin tersebut. menghampirinya. mataku bertemu dengan matanya. sorot matanya berubah. aku melihat kesenangan seorang anak kecil di matanya. memang selama ini aku merasa sudah berbuat baik. tak jarang aku memberikan pakaian dan mainan. makanan yang paling sering. setidaknya seminggu 3 kali aku membawa bungkusan plastik hitam berisi jatah makan kantorku untuk kuberikan kepada Bimbim. aku menunggu lampu merah untuk menyeberang. aku hisap dalam - dalam rokok yang 10 menit lalu kubakar ujungnya. hisapan terakhir. lalu kumatikan bara api dengan sol sepatuku. mataku lurus ke depan.


"mas bima!" teriaknya sambil melambai. memanggilku ketika aku masih berada di atas zebra cross perempatan yang terkenal sangat ramai. aku melambai juga.


bukan karena namaku yang serupa dengan namanya yang menjadikan aku memutuskan untuk berelasi dengannya. ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan diksi. entah apa namanya. garis bawahnya adalah aku seolah merasa terpanggil untuk berhubungan dengan Bimbim. aku tersenyum. pun dia. tersenyum lebar. aku tau apa yang dipikirkannya. tapi aku tak membawa mainan. aku tahu aku sudah berjanji akan membelikan ia mainan minggu ini. deadline konsep acara membuatku lupa dengan janjiku. minggu depan sajalah aku memenuhi janjiku. lagipula waktu cutiku akan kumanfaatkan dengan berlibur ke puncak berdua dengan pasanganku.


"gimana daganganmu? kamu sudah makan?" tanyaku membuka percakapan dengannya. kurebahkan tubuhku di sampingnya. berjongkok perlahan. aku mengambil sebatang rokok lagi dari saku kemejaku. menyalakannya.

"hari ini agak lumayan mas, tadi ada yang borong" pertanyaan pertama dijawab.

"aku sudah makan mas, kemarin." lirih menjawab pertanyaanku nomer dua.

"ayo sini" ajakku sambil menggamit tangannya.

"kemana mas?" dia bertanya.

"sudah ikut saja. tak usah banyak tanya, Bimbim" jawabku sambil menarik tangannya pelan.


aku membawanya masuk ke dalam gang di sebelah kantorku. aku tinggal di rumah kost. aku tak punya siapa - siapa di kota metropolitan ini. kusuguhkan makanan jatah dari kantor sesampainya di tempat kostku. hari itu kostku sedang sepi. kamar sebelah kiri kamarku sedang kuliah. kamar sebelah kanan kamarku sedang pulang ke klaten untuk menghadiri resepsi pernikahan kerabatnya. aku tahu dia sangat lapar. beberapa kali kontraksi perutnya terdengar olehku. matanya berbinar ketika tangannya menerima bungkusan coklat. dia membuka bungkusan itu dengan tergesa. lapar sangat yang membuatnya begitu.


"mas ga makan?" tanyanya. aku yakin itu cuma basa basi. hanya formalitas. tapi aku senang ditanya begitu.

"nanti saja" jawabku. "aku belum lapar". sebenarnya aku lapar. tapi aku masih bisa menahannya.

"setelah makan, kamu siap - siap di sana ya" lanjutku sambil menunjuk kasur pegas ukuran besar di kamar kostku. "mas mau pergi ke depan sebentar". aku berlalu setelah membuka daun pintu kamarku.

"iya mas. mas mau kemana?" tanyanya lagi dengan terbata - bata. mulutnya dipenuhi nasi dan potongan ayam.


"ke circle k, beli minuman ringan dan kondom" kujawab sekenanya sambil mengunci daun pintu kamarku.


[jogjakarta. 14 mei 2009. 02:12 pm. fikri]